31 May

Rokok Bukti Cinta?

Entah dari mana mulainya, tahu-tahu pembicaraan menyentuh kata 'rokok'. Saya kemudian bertanya kepada salah seorang kawan berjenis kelamin perempuan yang duduk di depan saya. "Eh, cowok baru kamu yang sekarang ngerokok nggak?".
 
"Iya...", katanya.
 
Setahu saya, cowok sebelumnya dari teman saya ini tidak merokok. 
 
"Terus, kalau cowok kamu yang sekarang ngerokok, gimana perasaanmu?".
 
"Ya sebenernya aku pengennya dia nggak ngerokok. Tapi kan aku jadian sama dia udah dalam keadaan dia ngerokok, ya aku terima dia apa adanya...", jawab dia.
 
"Lalu, apa keinginanmu yang terdalam?", tanyaku.
 
"Ya pengennya dia nggak ngerokok...".
 
"Aku pengen tahu apa yang ada di pikiranmu tentang bahayanya merokok..."
 
"Merokok merusak kesehatan. Bisa membahayakan jantung dan janin."
 
"Mengapa kamu pengen dia nggak merokok?"
 
"Kehidupan yang lebih sehat sekarang dan di masa depan nanti, terutama kalau udah punya anak"
 
"Yakin?"
 
"Yakin !"
 
"Orang ngerokok hidupnya berkah nggak?"
 
"Selama tidak mengganggu orang lain kan hidupnya berkah"
 
"Orang ngerokok mengganggu orang lain nggak?"
 
"Hmmm ... Ya iya sih ..."
 
"Apa yang dicari orang ngerokok?"
 
"Kenikmatan kali..."
 
"Kenikmatan buat siapa?"
 
"Ya buat dirinya ..."
 
"Kenikmatan juga buat orang yang ada di dekatnya?"
 
"Ya pasti nggak lah ... keganggu sama bau dan asap..."
 
"Berarti orang yang merokok peduli dengan orang lain? Trus kalau orang nggak peduli sama orang lain namanya apa?"
 
"Egois .... Hmm, tapi kan dia bisa merokok di tempat lain atau smoking area?"
 
"Apakah orang merokok itu mencintai tubuh yang diamanahkan Tuhan?"
 
"Hmmm ... menurutku tidak..."
 
"Mengapa?"
 
"Karena dia sudah meracuni tubuhnya sendiri...Tapi dia sudah kecanduan, susah dihentikan..."
 
"Dia kecanduan rokok, atau kecanduan perasaan yang ditimbulkan akibat merokok?"
 
"Maksudmu? Aku belum ngerti..."
 
"Apa yang dia dapatkan dari merokok?"
 
"Ya itu, kenikmatan, kesenangan, ketenangan.."
 
"Tapi dia tahu dampak dan bahaya merokok?"
 
"Ya tau lah..."
 
"Dia tahu bahayanya merokok terhadap perokok pasif, kamu, anak-anakmu nanti?"
 
"Sepertinya tau lah ..." 
 
"Berarti yang dia cari dan kejar kenikmatan rasanya itu kan? Dan itu dia lakukan dengan cara meracuni tubuhnya sendiri. Dia lebih ngebela perasaannya daripada pikirannya.  Itu bukan mendzalimi diri sendiri ya?"
 
"Hmmm ... "
 
"Bagaimana mungkin dia akan mencintai kamu kalau sama dirinya sendiri nggak mencintai?"
 
"Trus, aku musti gimana dong?"
 
"Kamu maunya dia ngerokok nggak?"
 
"Ya pengennya nggak ngerokok..."
 
"Ya minta aja dia nggak ngerokok..."
 
"Nanti dia marah..."
 
"Dia mencintai kamu?"
 
"Iya..."
 
"Kalau dia mencintaimu, kok dia akan marah dengan permintaanmu? Kalau dia sampai marah dengan keinginanmu ini, artinya dia mencintai kamu, atau mencintai nafsunya sendiri?"
 
"..............."
 
"Kamu siap dan bersedia hidup dengan orang seperti itu?"
 
"................"
 
"Kalau kamu membiarkan dia merokok, sementara kamu inginnya dia tidak merokok demi kebaikan semuanya sekarang dan masa depan, lalu karena kamu takut dia marah kamu tidak mau menyampaikan permintaanmu itu, itu berarti kamu telah memutuskan untuk diam, maka nanti kalau ada apa-apa kamu bertanggungjawab juga. Ciri orang bertanggungjawab adalah tidak mengeluh setelah keputusan itu, dan kamu tinggal pertanggungjawabkan saja keputusanmu itu di hadapanNya nanti...".
 
"..............." ***
2017-05-31 02:11:00
Prasetya M. Brata
komentar
19 May

Respon Goblok

"GOBLOK!!"

Sensor-indera-ku memberitahu ada suara dan gesture. Mesin meaning-maker-ku bekerja memberitahu itu adalah symptom, bungkus. Aku lalu cari isinya dengan bantuan mesin meta-reflexivity-ku:

- Apa yang membuat ia mengatakan itu?
- Apakah sebab-sebab yang membuat ia mengatakan hal itu benar?
- Apa pengetahuan, pengalaman, keyakinan, yang ia miliki dan ia rujuk sehingga mengatakan itu dengan cara itu?
- Siapa dia yang mengatakan hal itu dengan cara itu?
- Apa intensi atau tujuan ia mengatakan itu?
- Apa makna kata-kata dan gesture itu bagiku?
- Apakah makna yang kupilih atas kata-kata dan gesture dia itu mengalami cognitive distortion?
- Apa makna atas makna itu?
- Dengan makna yang kupilih itu, bagaimana perasaanku?
- Dengan makna dan perasaanku ini, sekarang apa respon yang kupilih?
- Apa intensi atau tujuanku berespon seperti itu?
- Apakah makna dan intensi responku telah murni dari kesadaran dan nuraniku, atau masih ada belenggu emosi di sana?
- Apakah responku berupa ucapan dan tindakan nanti lolos dari logical fallacy?
- Apakah responku ekologis? Melanggar hukum? Melanggar norma? 
- Apakah responku itu telah cocok dengan konteks situasi dan waktu saat ini?
- Apakah responku nanti telah sesuai dengan kesadaran dan hati nurani? Atau masih dibelenggu oleh perasaan?
- Apa yang terjadi pada kapasitas, kemampuan, dan power-ku di masa mendatang setelah aku berespon seperti itu?
- Apa yang kuyakini tentang arti dan respon yang kupilih?
- Apa yang kuyakini atas keyakinanku itu?
- Apakah aku telah mengizinkan diri untuk berespon seperti itu?
- Siapa aku yang telah merespon seperti itu?
- Apakah seorang aku responnya seperti itu?
- Apakah respon seperti itu dari seorang aku adalah yang benar-benar aku inginkan dari seorang aku?

Sekarang aku dapat isinya.

2017-05-19 00:00:00
Prasetya M. Brata
komentar
15 Dec

Bagaimana Mau Lepas Tanggungjawab?

 

 

Hari itu, Nadhira Arini, puteri tertua Inspirator Sukses Mulia Jamil Azzaini, menginap di rumah saya. Ia bersama ibunya mengikuti kelas publik saya "NeuroSemantics++ For Personal Mastery batch 12" yang dilangsungkan di Hotel Kristal Jakarta. Daripada kembali ke rumahnya di Bogor dan berisiko terlambat mengikuti pelatihan hari kedua, maka ia dan mamanya saya tawari menginap di rumah.

 

"Om, bagaimana kalau misalkan kita naik mobil duduk di belakang supir, terus terjadi kecelakaan. Apakah itu juga tanggungjawab kita sendiri?".

 

Pada sesi-sesi pertengahan pelatihan, saya menjelaskan bahwa apapun keadaan kita adalah tanggungjawab kita penuh. Rupanya ia masih butuh penjelasan lebih detail tentang itu. 

 

"Mas Prass mah intuiting, bahasanya bahasa langit", kata Mbak Ria mamanya.

 

Di konsep mesin kecerdasan STIFIn, Dhira termasuk feeling murni, sementara saya intuiting introvert. 

 

"Makanya Dhira butuh dijelaskan lagi dengan bahasa bumi," sambung Mbak Ria. 

 

Dari face reading yang saya lakukan, Dhira memang tipe orang yang praktis dan jika punya sesuatu yang ingin diketahui atau dicapai, ia mengejarnya. Dhira adalah seorang penulis muda yang blog-nya banyak dikunjungi orang. Bukunya juga laris. 

 

"Iya dong, tetap tanggungjawab kita", jawab saya.

"Lho kan saya numpang", sambungnya

"Siapa yang memutuskan untuk naik mobil itu?"

Sampai di sini tampaknya Dhira sudah mafhum.

 

Waktu itu saya tidak melanjutkan dengan penjelasan bahwa setiap saya memutuskan sesuatu, selalu ada risiko dan konsekuensi di belakangnya. Terima tidak terima, itu sudah satu paket. Kalau saya ingin kenyang, konsekuensinya saya perlu mengunyah, dan risikonya keracunan, tersedak atau tergigit. Ketika mengemudi, risikonya saya menabrak atau ditabrak orang. Kalau tidak mau mengalami risiko menabrak atau ditabrak orang, ya saya cukup diam saja di rumah. Sudah tahu 'kan risiko menumpang kendaraan yang disupiri orang lain? Berarti sudah siap menerima risikonya ketika memutuskan tetap naik.

 

Risiko dapat dikelola. Diawali dengan mengidentifikasi jenis-jenis risiko,  saya mengukur besarnya risiko, untuk kemudian melakukan langkah-langkah menghindari, mengurangi, atau mengalihkan risiko. Saya pernah dua kali ikut kursus safety driving. Saya secara rutin dan disiplin 'membengkelkan' kendaraan saya agar selalu laik jalan. Saya mengikutsertakan Syaiful supir pribadi saya ke pelatihan defense driving di lembaga sahabat saya Jusri Pulubuhu. Saya juga  menggunakan seatbelt meskipun di kursi belakang. Saya memilih jalan dan waktu perjalanan yang mengandung risiko lebih kecil. Saat mengetahui pengemudi kendaraan yang saya tumpangi menjalankan kendaraan dengan ceroboh, saya punya pilihan untuk mengingatkannya. Saya juga mengasuransikan kendaraan dan diri saya untuk mengalihkan risiko kerugian ekonomi kepada pihak ketiga. 

 

Seluruh cara mengelola risiko itu sepenuhnya dalam kendali saya. Saya punya pilihan untuk melakukan atau tidak melakukannya. Kalau saya tidak melakukannya lantas risiko itu terjadi, saya mau menyalahkan siapa? Jika setelah saya lakukan seluruh mekanisme pengelolaan risiko, lalu kecelakaan terjadi juga, maka kejadian itu saya pilih untuk saya terima sebagai bagian dari paket keputusan saya sendiri. Kejadian itu saya jadikan soal hidup.  Untuk lulus atau tidak, tergantung dari ketepatan saya menjawab soal itu. Menjadi nasib baik atau nasib buruk adalah pilihan saya, tanggungjawab saya, yaitu  bagaimana saya memaknai kejadian itu, menentukan apa nasib selanjutnya yang benar-benar saya inginkan, dan membangun kehidupan berikutnya sesuai keinginan itu. 

 

Perbincangan dengan Dhira berlanjut di ruang kerja, sementara mama Ria telah pamit tidur. Ketika saya minta izin istirahat duluan untuk memulihkan stamina menghadapi pelatihan hari kedua, Dhira tampak masih belum rela. Saat saya sampaikan ke ayahnya  lewat whatsapp, Mas Jamil membalas, "Biasanya dia ngobrol sampai pagi mas".***

 

2015-12-15 00:00:00
Prasetya M. Brata
komentar
27 Dec

Makna Anti Lebay

"Atas dasar apa seseorang memutuskan menikah, Ayah?", itulah kalimat pertama dari seseorang di blackberry messenger saya.

Namanya Yaya. Ia tinggal di Banjarmasin. Ia memanggil saya 'Ayah' bukan karena ia anak kandung saya. Ia telah menganggap saya sebagai ayahnya. Pernah ia terbang dari Banjarmasin ke Jakarta dan menginap di rumah saya untuk mengikuti sebuah acara. Perkenalan pertama kami lewat twitter dan berlanjut ia membeli kedua buku saya.

"Hahahahahaa!", balas saya.

"Yaaah, diketawain .. Ya sudah deh, nyari jawaban sendiri aja", jawabnya.

"Lha tiap orang 'kan masing-masing beda dong...", jawab saya.

"Kalau buat saya sih, dasar seseorang memutuskan menikah adalah SIAP", imbuh saya.

Segera saya menjelaskan lebih lanjut, "Siap itu berarti termasuk siap menerima risiko dan menjalani keadaan terburuk karena ada faktor yang belum siap".

"Kalau begitu saya belum siap...", katanya.

"Mengapa?", tanya saya.

"Baru kenal sebulan diajak married... Takuuuuut", jawabnya.

"Hmmm, takut itu 'kan dapat disebabkan oleh 'sungguhan', bisa juga oleh 'anggapan'...", jawab saya.

"Dia wartawan, nasabahku...". Yaya memang bekerja di sebuah bank BUMN.

"Kalau kata hati belum siap, ya ikuti saja...", jawab saya.

"Yaya boleh latihan memberi 'meaning' yang sederhana dulu. Contohnya, waktu saya jatuh ke kolam, sempat bikin 'meaning' : wah, ini tandanya akan mendapat keberuntungan karena orang Jawa kalau mau menikah 'kan pakai siraman, mau puasa pakai 'padhusan', semua yang berhubungan dengan air. Jatuhku ke kolam ini juga berarti memberi kegembiraan buat teman-teman yang menertawakan saya. Kejadian ini juga sebagai cara Tuhan menegur saya supaya introspeksi jangan-jangan 'kesialan' ini akibat saya kurang amal, kuran sedekah, atau karena sombong... Saya akhirnya sampai pada penyederhanaan makna, bahwa jatuhnya saya ke kolam itu adalah karena saya tidak hati-hati. Titik. Nggak jadi lebay...", imbuh saya ditutup dengan simbol smiley.

Saya melanjutkan. "Jadi, kalau Yaya takut artinya belum siap. Butuh waktu untuk menyiapkan diri. Titik" 

"Bagaimana dengan sebuah pengalaman atau peristiwa yang kuat di ingatan sebagai pengalaman buruk? Jadi kayak mental block gitu ya?. Mengubah maknanya 'kan susah karena sudah telanjur terbentuk sebagai pengalaman yang buruk", tanya ia lagi.

"Susah itu karena belum tahu caranya, belum terlatih. Mental block itu bermanfaat untuk lebih berhati-hati dan melakukan persiapan lebih matang."

"Sama kayak sakit yaaa...? Positifnya adalah cobaan Tuhan ... ujian supaya bisa bersabar dapat pahala, dan lupa bertanggungjawab untuk sehat kembali ...:-)) ... Pahaaaaam". Muncul tanda jempol dari Yaya.***

2012-12-27 17:45:00
Prasetya M. Brata
komentar
04 Mar

I Hate That Smile


Tahu-tahu saya sudah berada di tengah perbincangan beberapa teman mengenai seseorang. Saya sadar berada dalam pusaran gosip. Mereka membicarakan orang yang sama.
 
A : "Dulu gue pernah berantem sama dia gara-gara dia ngomong bla...bla...bla...
B : "Gue pertama kali ketemu dia bawaannya udah nggak cocok. Kemistri-nya lain"
C : "Maunya menang sendiri, pinter sendiri..."
D : "Ngeliat senyumnya aja bawaannya udah nyebelin dan bikin sepet mata...".
A, B, C : "Hahahaaa, benerrrr....".
 
Saya juga mengenal orang yang dibicarakan ini. Saya bukannya tidak paham apa yang mereka pikirkan dan rasakan, karena saya pernah punya pikiran dan perasaan yang sama. Hahaha. Dalam satu waktu, saya pernah membicarakan kebaikan orang ini dan justru malah mendapat komentar sinis dari beberapa orang yang punya 'bad experience' dengan orang ini. 
 
Ketika cerita non-fiksi ini saya jadikan status facebook : "Ada orang yang dari senyumnya saja sudah nyebelin dan bikin mata sepet... tapi perhatikan lebih dalam... dialah yang akan memberimu lebih banyak pelajaran...", beragam komentar dan reply berdatangan, antara lain :
 
"Pelajaran agar tidak menjadi orang yang nyebelin kayak orang itu ya pak ?"
 
"Gimana memperhatikan lebih dalam? Ngeliatnya aja sudah bikin sebel..."
 
"Pelajaran tentang arti sebuah kesabaran..."
 
"Semakin dalam semakin sebel tau pak..."
 
"Kata Azis Gagap, jangan liat casingnya, tapi liat kemampuannya :-D"
 
Ada komentar lucu dari teman saya Nandra F. Piliang, "Semakin dalam semakin mau tak gampar mas..". Saya lantas menimpali, "Nah, nanti kan akan semakin dapat pelajaran ... coba aja mas". Dia lalu membalas, "Bukan pelajaran mas, tapi malah dia menghajar balik...". Saya bilang, "Lha ya itu maksud saya, dia memberi pelajaran...". Nandra : "Asem...".
 
Komentar dari teman muda Krisna Dwipayana cukup tajam : ".. atau jangan-jangan orang itu mirip kita, Pak? Bisa aja 'kan kita nggak sadar sedang 'bercermin' pas melihat orang itu? Atau mungkin juga 'persepsi' kita saja kalau orang tersebut mukanya kayak gitu. Apalagi kalau misal kita membawa 'emosi' dalam melihat orang itu...". Komentar ini menarik karena sepertinya ia mengerti tentang cara manusia memberi penilaian. Sayapun membalas, "itulah pelajaran besar dari melihat orang itu, bukan?... Ternyata yang mendapat manfaat adalah diri sendiri karena tahu pelajaran untuk berubah memperbaiki diri lebih baik lagi..."
 
Ketika ada yang berkomentar, "Gimana mau memperhatikan lebih dalam? Ngeliatnya aja sudah bikin sebel...", saya membalas : "Makin sebel berarti makin dapat feedback tentang kualitas emosi kita sendiri bukan?. Dari situ kita mendapat cermin untuk bertumbuh, bukan?".
 
Ketika kita suka atau tidak suka kepada seseorang, sebenarnya yang kita sukai atau tidak sukai bukan orang itu sebagai realitas, melainkan gambaran pikiran kita mengenai orang itulah yang membuat kita suka atau tidak suka. Gambaran dalam pikiran tersusun dari serangkaian gambar-suara-rasa, yang ketika berada di layar pikiran saja sudah mengalami bias akibat kondisi panca indera dan filter mental yang bernama distorsi, generalisasi, dan penghapusan. Pemberian arti terhadap apa yang hadir dalam layar pikiran kita berdasarkan referensi kita terhadap nilai-nilai yang kita anut sebelumnya, dan pengalaman masa lalu yang sama atau mirip-mirip, yang dihubung-hubungkan. Padahal masa lalu itu komponen manusia yang terlibat, durasi waktu, tempat dan suasananya sudah berbeda dengan kejadian yang ada di depan kita saat ini.  Dengan demikian penilaian terhadap seseorang sebenarnya tidak menggambarkan 'nilai' orang itu, melainkan 'kemampuan' kita dalam memberi nilai. 
 
Jelasnya, jika seseorang mengatakan orang lain 'jelek' kepada wajah kita, maka bukan wajah kita yang jelek, melainkan kompetensi orang itu menyebabkan proses berpikir di dalam kepalanya menghasilkan gambaran wajah kita yang dalam layar pikirannya dikategorikan sebagai 'jelek'. Lebih jelas lagi begini. Tuhan itu Maha Sempurna, menciptakan dengan cara yang sempurna, dan ciptaannya pasti sempurna. Jika wajah anda yang sempurna ini dibilang jelek oleh seseorang, maka jelek itu menggambarkan kemampuan orang itu dalam 'melihat' ciptaan Tuhan. Jadi anda tenang saja. Tapi kalau wajah atau senyum kita sampai menimbulkan emosi negatif pada seseorang, misalnya sebel, marah, bete, maka kita perlu waspada, jangan-jangan ada kelakuan kita di masa lalu yang dihubungkan oleh orang itu dalam pikirannya dengan wajah atau senyum kita. Meskipun tidak menutup kemungkinan orang itu sedang menghubungkan gambaran wajah atau senyum kita dengan kelakuan orang lain yang memiliki kemiripan atribut dengan kita, tetapi tetap bermanfaat jika kita introspeksi, jangan-jangan ada hal-hal yang kita lakukan menyinggung dan menganiaya orang lain.  
 
Tanpa dinyana, sahabat saya Nong membuat note yang isinya 'menjawab' alias meluaskan lagi sudut pandang dengan mengatakan : sebetulnya, menurut saya, senyum yang bikin BETE itu awalnya dari hati yang selalu BETE.
 
Tetapi yang paling indah saat ini adalah saya mendapat hipotesis adanya hubungan antara cara berpikir, kelakuan, dan cara senyum. Bikin penasaran saja. Sementara saya belum mendapat kebenaran empiriknya, lebih baik saya mulai menjaga perkataan dan kelakuan biar orang lain tidak berbuat dosa karena ngerumpi-in hal-hal buruk tentang saya. "Kalau senyum saya bagaimana Pak?", tanya seorang teman facebook yang cantik. Keganjenan saya langsung terbit dan menjawab, "Senyummu bikin pria galau...".***
2012-03-04 14:02:00
Prasetya M. Brata
komentar