15 Dec

Bagaimana Mau Lepas Tanggungjawab?

Oleh Prasetya M. Brata pada 2015-12-15 00:00:00

 

 

Hari itu, Nadhira Arini, puteri tertua Inspirator Sukses Mulia Jamil Azzaini, menginap di rumah saya. Ia bersama ibunya mengikuti kelas publik saya "NeuroSemantics++ For Personal Mastery batch 12" yang dilangsungkan di Hotel Kristal Jakarta. Daripada kembali ke rumahnya di Bogor dan berisiko terlambat mengikuti pelatihan hari kedua, maka ia dan mamanya saya tawari menginap di rumah.

 

"Om, bagaimana kalau misalkan kita naik mobil duduk di belakang supir, terus terjadi kecelakaan. Apakah itu juga tanggungjawab kita sendiri?".

 

Pada sesi-sesi pertengahan pelatihan, saya menjelaskan bahwa apapun keadaan kita adalah tanggungjawab kita penuh. Rupanya ia masih butuh penjelasan lebih detail tentang itu. 

 

"Mas Prass mah intuiting, bahasanya bahasa langit", kata Mbak Ria mamanya.

 

Di konsep mesin kecerdasan STIFIn, Dhira termasuk feeling murni, sementara saya intuiting introvert. 

 

"Makanya Dhira butuh dijelaskan lagi dengan bahasa bumi," sambung Mbak Ria. 

 

Dari face reading yang saya lakukan, Dhira memang tipe orang yang praktis dan jika punya sesuatu yang ingin diketahui atau dicapai, ia mengejarnya. Dhira adalah seorang penulis muda yang blog-nya banyak dikunjungi orang. Bukunya juga laris. 

 

"Iya dong, tetap tanggungjawab kita", jawab saya.

"Lho kan saya numpang", sambungnya

"Siapa yang memutuskan untuk naik mobil itu?"

Sampai di sini tampaknya Dhira sudah mafhum.

 

Waktu itu saya tidak melanjutkan dengan penjelasan bahwa setiap saya memutuskan sesuatu, selalu ada risiko dan konsekuensi di belakangnya. Terima tidak terima, itu sudah satu paket. Kalau saya ingin kenyang, konsekuensinya saya perlu mengunyah, dan risikonya keracunan, tersedak atau tergigit. Ketika mengemudi, risikonya saya menabrak atau ditabrak orang. Kalau tidak mau mengalami risiko menabrak atau ditabrak orang, ya saya cukup diam saja di rumah. Sudah tahu 'kan risiko menumpang kendaraan yang disupiri orang lain? Berarti sudah siap menerima risikonya ketika memutuskan tetap naik.

 

Risiko dapat dikelola. Diawali dengan mengidentifikasi jenis-jenis risiko,  saya mengukur besarnya risiko, untuk kemudian melakukan langkah-langkah menghindari, mengurangi, atau mengalihkan risiko. Saya pernah dua kali ikut kursus safety driving. Saya secara rutin dan disiplin 'membengkelkan' kendaraan saya agar selalu laik jalan. Saya mengikutsertakan Syaiful supir pribadi saya ke pelatihan defense driving di lembaga sahabat saya Jusri Pulubuhu. Saya juga  menggunakan seatbelt meskipun di kursi belakang. Saya memilih jalan dan waktu perjalanan yang mengandung risiko lebih kecil. Saat mengetahui pengemudi kendaraan yang saya tumpangi menjalankan kendaraan dengan ceroboh, saya punya pilihan untuk mengingatkannya. Saya juga mengasuransikan kendaraan dan diri saya untuk mengalihkan risiko kerugian ekonomi kepada pihak ketiga. 

 

Seluruh cara mengelola risiko itu sepenuhnya dalam kendali saya. Saya punya pilihan untuk melakukan atau tidak melakukannya. Kalau saya tidak melakukannya lantas risiko itu terjadi, saya mau menyalahkan siapa? Jika setelah saya lakukan seluruh mekanisme pengelolaan risiko, lalu kecelakaan terjadi juga, maka kejadian itu saya pilih untuk saya terima sebagai bagian dari paket keputusan saya sendiri. Kejadian itu saya jadikan soal hidup.  Untuk lulus atau tidak, tergantung dari ketepatan saya menjawab soal itu. Menjadi nasib baik atau nasib buruk adalah pilihan saya, tanggungjawab saya, yaitu  bagaimana saya memaknai kejadian itu, menentukan apa nasib selanjutnya yang benar-benar saya inginkan, dan membangun kehidupan berikutnya sesuai keinginan itu. 

 

Perbincangan dengan Dhira berlanjut di ruang kerja, sementara mama Ria telah pamit tidur. Ketika saya minta izin istirahat duluan untuk memulihkan stamina menghadapi pelatihan hari kedua, Dhira tampak masih belum rela. Saat saya sampaikan ke ayahnya  lewat whatsapp, Mas Jamil membalas, "Biasanya dia ngobrol sampai pagi mas".***

 

Komentar ()

Artikel Terkait