30 Nov

Siapa Khalifahnya?

Oleh Prasetya M. Brata pada 0000-00-00 00:00:00

Sebenarnya saya pernah sangat bosan. Sejak pindah ke rumah saat ini tiga tahun lalu, imam di mesjid dekat rumah orangnya sama. Ya beliau. Bayangkan setiap ke mesjid mendengar nada, tone, timbre, volume, tempo, yang sama selama tiga tahun. 

 

Namun saat kebosanan datang saya segera memeriksa sebenarnya SIAPAKAH YANG BOSAN. Jawabannya selalu sama : indera yang bosan. Lha! Kalau saya kemudian pindah mesjid, atau bahkan terganggu hanya oleh indera yang sejatinya alat hidup, berarti indera saya lebih berkuasa daripada saya. Indera saya serahkan tugas sebagai khalifah-nya, bukan saya. 

 

Sesungguhnya informasi bosan dari sang indera merupakan asupan bagus untuk kreativitas. Informasi dari indera membuat inovasi dan kreativitas di kuliner, desain pakaian, arsitektur, warna dan genre musik, gadget, martabak berbagai toping. Sekarang di halaman mesjid ada tukang jualan cilok, cireng, citak, cimin, jeletot, seblak, yang tak saya temui semasa aku kecil.  Tapi dalam kontes ibadah sholat Jumat masak saya kreatif? Yang paling mungkin adalah saya menyampaikan usul kepada beliau sang Imam barangkali dapat meragamkan lagu, meski saya sadari itu tetap soal selera inderawi -- soal remeh. 

 

Di tingkat yang lebih 'strategis' dan 'sistem' kebosanan saya dan mungkin jemaah lain dapat dipandang sebagai masukan pasar untuk improvement. Tentu saja khotbah jumat tidak dapat pakai energizer seperti games, bernyanyi, atau doorprize untuk menjaga state dan engagement jemaah. Improvement paling dapat dilakukan pada content dan delivery khotbah. Untuk Imam improvement-nya ada di sektor pengolahan auditory, meski jangan juga di-mellow-mellowkan. Ada constraint fiqih dan adab soal itu. 

 

Namun begitu, hal-hal tadi adalah persoalan yang hasilnya di luar kendali saya. Seandainya seorang Imam tetap membaca dengan lagu yang sama, yasudah. 

 

Apa yang ada dalam kendali saya adalah segera memasuki 'alam' di balik indera dan mencari apa mutiara di baliknya. Suara itu saya terima. Accept and embrace. Saya lantas memasuki gerbang makna dan mulai lebih jelas mendengar ayat suci yang dibacakannya. Makna dari ayat yang dibacakannya yang saya paham. Peringatan, pengetahuan, kebijakan, yang dilantunkannya. Yang melantunkan adalah orang yang amat konsisten memimpin sholat. Tiba-tiba saya mendapat kenikmatan yang luar biasa. "Bungkus" tidak lagi jadi persoalan karena saya mendapat isinya. 

 

Banyak orang yang tidak suka dengan bungkus gagal mendapatkan isinya. Banyak orang terpesona dengan bungkus sehingga menyangka bungkus itulah isi. Banyak pula orang yang setelah mendapat isi, memperbaiki bungkusnya agar bungkus menegaskan isi. 

 

Saya kira anda dapat menerapkan hal ini saat mendengarkan saya bernyanyi, walau kemungkinan besar anda gagal.

Komentar ()

Artikel Terkait