30 Nov

POWERLESS

Oleh Prasetya M. Brata pada 0000-00-00 00:00:00

021 80629XXX. Nomor itu tertera di layar smartphone yang melantunkan nada dering tanda panggilan masuk. Tidak saya angkat.

 

021 80629XXX. Panggilan masuk lagi. Setelah tiga kali, tidak ada panggilan lagi. Keesokan hari panggilan masuk dari nomor itu datang lagi. Hari itu lima kali. Keesokan harinya empat kali. Semua tidak saya angkat. 

 

Akibat pengalaman-pengalaman sebelumnya, pikiran saya terdistorsi dengan generalisasi bahwa nomor telepon berkepala 29, 30, 80 kalau tidak tentang tagihan kartu kredit, penawaran kartu kredit baru, penawaran pinjaman, asuransi, ya investasi. Sebelum-sebelumnya, jika ada nomor dari manapun, biasanya saya angkat dan jika ternyata dari pihak-pihak yang saya sebutkan tadi, tinggal bilang "tidak", beres. Kali itu, saya sedang malas 'ngomong'. Apalagi saya ingat punya 'salah' karena ada tagihan kartu kredit yang belum sempat saya bayarkan.

 

'Sial'-nya, nomor itu tidak saya lihat lagi langsung saya angkat, sesudah ada telepon masuk dari isteri saya yang tidak keburu saya angkat. Saya pikir isteri saya. Ternyata seberang sana menawarkan kursus bahasa Inggris. Setelah memberi kesempatan mbak telemarketer menjelaskan, saya kemudian bilang tidak, terimakasih. Ternyata beres. Nomor itu tidak lagi muncul di hari-hari setelahnya. 

 

Selama masalah tidak diselesaikan, ia terus mengikuti. Banyak orang yang membiarkan masalah terus-terusan menghantui karena dirinya 'powerless'. Saya saat itu sedang 'powerless' sehingga 'perkara sepele' menjadi perkara memberatkan. Saya powerless -- tidak punya kekuatan -- menghadapi perasaan yang saya produksi dari asumsi-asumsi saya sendiri. Kalau ada yang mengatakan 'Power tend to corrupt. Absolute power corrupt absolutely', maka sejatinya korupsi itu bukan karena power, melainkan karena powerless. Powerless terhadap syahwat-syahwatnya sendiri. 

Ketika menyadari saya punya 'power zone', maka masalah kemudian saya terima, lantas dengan menggunakan pikiran dan 'state' yang tepat, solusi-pun hadir. Solusi itu lantas saya jalani sambil tetap terima rasanya. Rasa khawatir, rasa tidak enakan, rasa sungkan, saya terima. Ternyata beres. Yang membuat tidak beres sehingga tertunda-tunda, terkatung-katung, adalah karena saya fokus pada perasaan saya yang menjajah sehingga tak berdaya. Penjajahan perasaan menyebabkan pikiran lumpuh dan menjadi seolah-olah tidak ada solusi. Makanya sulit sekali menasihati orang yang sedang jatuh cinta. 

 

Setiap masalah bukannya tidak ada solusi. Bersama masalah, telah ada solusi. Yang terjadi adalah saya tidak suka dengan solusinya. Saya tidak suka dengan konsekuensi dari solusi itu yang tidak enak, sebab saya maunya yang enak-enak saja. Maka jika saya mengatakan "Saya sudah berusaha mencari solusi terbaik, tapi belum dapat juga", jangan-jangan saya bukan mencari solusi terbaik melainkan solusi terenak. Terenak belum tentu baik, terbaik belum tentu enak.

Komentar ()

Artikel Terkait