P   R   O   V   O   K   A   S   I

Gangguan pikiran akibat membaca tulisan - tulisan di situs ini merupakan tanggung jawab pembaca masing - masing.

  • I Hate That Smile


    Tahu-tahu saya sudah berada di tengah perbincangan beberapa teman mengenai seseorang. Saya sadar berada dalam pusaran gosip. Mereka membicarakan orang yang sama.
     
    A : "Dulu gue pernah berantem sama dia gara-gara dia ngomong bla...bla...bla...
    B : "Gue pertama kali ketemu dia bawaannya udah nggak cocok. Kemistri-nya lain"
    C : "Maunya menang sendiri, pinter sendiri..."
    D : "Ngeliat senyumnya aja bawaannya udah nyebelin dan bikin sepet mata...".
    A, B, C : "Hahahaaa, benerrrr....".
     
    Saya juga mengenal orang yang dibicarakan ini. Saya bukannya tidak paham apa yang mereka pikirkan dan rasakan, karena saya pernah punya pikiran dan perasaan yang sama. Hahaha. Dalam satu waktu, saya pernah membicarakan kebaikan orang ini dan justru malah mendapat komentar sinis dari beberapa orang yang punya 'bad experience' dengan orang ini. 
     
    Ketika cerita non-fiksi ini saya jadikan status facebook : "Ada orang yang dari senyumnya saja sudah nyebelin dan bikin mata sepet... tapi perhatikan lebih dalam... dialah yang akan memberimu lebih banyak pelajaran...", beragam komentar dan reply berdatangan, antara lain :
     
    "Pelajaran agar tidak menjadi orang yang nyebelin kayak orang itu ya pak ?"
     
    "Gimana memperhatikan lebih dalam? Ngeliatnya aja sudah bikin sebel..."
     
    "Pelajaran tentang arti sebuah kesabaran..."
     
    "Semakin dalam semakin sebel tau pak..."
     
    "Kata Azis Gagap, jangan liat casingnya, tapi liat kemampuannya :-D"
     
    Ada komentar lucu dari teman saya Nandra F. Piliang, "Semakin dalam semakin mau tak gampar mas..". Saya lantas menimpali, "Nah, nanti kan akan semakin dapat pelajaran ... coba aja mas". Dia lalu membalas, "Bukan pelajaran mas, tapi malah dia menghajar balik...". Saya bilang, "Lha ya itu maksud saya, dia memberi pelajaran...". Nandra : "Asem...".
     
    Komentar dari teman muda Krisna Dwipayana cukup tajam : ".. atau jangan-jangan orang itu mirip kita, Pak? Bisa aja 'kan kita nggak sadar sedang 'bercermin' pas melihat orang itu? Atau mungkin juga 'persepsi' kita saja kalau orang tersebut mukanya kayak gitu. Apalagi kalau misal kita membawa 'emosi' dalam melihat orang itu...". Komentar ini menarik karena sepertinya ia mengerti tentang cara manusia memberi penilaian. Sayapun membalas, "itulah pelajaran besar dari melihat orang itu, bukan?... Ternyata yang mendapat manfaat adalah diri sendiri karena tahu pelajaran untuk berubah memperbaiki diri lebih baik lagi..."
     
    Ketika ada yang berkomentar, "Gimana mau memperhatikan lebih dalam? Ngeliatnya aja sudah bikin sebel...", saya membalas : "Makin sebel berarti makin dapat feedback tentang kualitas emosi kita sendiri bukan?. Dari situ kita mendapat cermin untuk bertumbuh, bukan?".
     
    Ketika kita suka atau tidak suka kepada seseorang, sebenarnya yang kita sukai atau tidak sukai bukan orang itu sebagai realitas, melainkan gambaran pikiran kita mengenai orang itulah yang membuat kita suka atau tidak suka. Gambaran dalam pikiran tersusun dari serangkaian gambar-suara-rasa, yang ketika berada di layar pikiran saja sudah mengalami bias akibat kondisi panca indera dan filter mental yang bernama distorsi, generalisasi, dan penghapusan. Pemberian arti terhadap apa yang hadir dalam layar pikiran kita berdasarkan referensi kita terhadap nilai-nilai yang kita anut sebelumnya, dan pengalaman masa lalu yang sama atau mirip-mirip, yang dihubung-hubungkan. Padahal masa lalu itu komponen manusia yang terlibat, durasi waktu, tempat dan suasananya sudah berbeda dengan kejadian yang ada di depan kita saat ini.  Dengan demikian penilaian terhadap seseorang sebenarnya tidak menggambarkan 'nilai' orang itu, melainkan 'kemampuan' kita dalam memberi nilai. 
     
    Jelasnya, jika seseorang mengatakan orang lain 'jelek' kepada wajah kita, maka bukan wajah kita yang jelek, melainkan kompetensi orang itu menyebabkan proses berpikir di dalam kepalanya menghasilkan gambaran wajah kita yang dalam layar pikirannya dikategorikan sebagai 'jelek'. Lebih jelas lagi begini. Tuhan itu Maha Sempurna, menciptakan dengan cara yang sempurna, dan ciptaannya pasti sempurna. Jika wajah anda yang sempurna ini dibilang jelek oleh seseorang, maka jelek itu menggambarkan kemampuan orang itu dalam 'melihat' ciptaan Tuhan. Jadi anda tenang saja. Tapi kalau wajah atau senyum kita sampai menimbulkan emosi negatif pada seseorang, misalnya sebel, marah, bete, maka kita perlu waspada, jangan-jangan ada kelakuan kita di masa lalu yang dihubungkan oleh orang itu dalam pikirannya dengan wajah atau senyum kita. Meskipun tidak menutup kemungkinan orang itu sedang menghubungkan gambaran wajah atau senyum kita dengan kelakuan orang lain yang memiliki kemiripan atribut dengan kita, tetapi tetap bermanfaat jika kita introspeksi, jangan-jangan ada hal-hal yang kita lakukan menyinggung dan menganiaya orang lain.  
     
    Tanpa dinyana, sahabat saya Nong membuat note yang isinya 'menjawab' alias meluaskan lagi sudut pandang dengan mengatakan : sebetulnya, menurut saya, senyum yang bikin BETE itu awalnya dari hati yang selalu BETE.
     
    Tetapi yang paling indah saat ini adalah saya mendapat hipotesis adanya hubungan antara cara berpikir, kelakuan, dan cara senyum. Bikin penasaran saja. Sementara saya belum mendapat kebenaran empiriknya, lebih baik saya mulai menjaga perkataan dan kelakuan biar orang lain tidak berbuat dosa karena ngerumpi-in hal-hal buruk tentang saya. "Kalau senyum saya bagaimana Pak?", tanya seorang teman facebook yang cantik. Keganjenan saya langsung terbit dan menjawab, "Senyummu bikin pria galau...".***

    2012-03-05 02:02:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini

  • Salah Benci

    Bermula dari status yang saya tulis di facebook "Yang kamu benci itu dirinya atau perbuatannya?", tidak berapa lama seorang sahabat memberi komentar, "dua-duanya".

     
    Saya lantas menimpali, "Mengapa dirimu membenci dirinya ?... Bukankah kamu pernah menyukainya, dan nanti mungkin saja menyukainya lagi jika ia minta maaf dan mengubah perbuatannya... sementara perbuatannya mungkin tidak akan pernah kamu sukai selamanya... :))".
     
    Komentar berikutnya muncul dari sahabat 'setia' saya di facebook -- sebut saja namanya Eka. Katanya "Pertama benci pada perbuatannya... Setelah dia minta maaf untuk yang pertama kali, saya masih benci perbuatannya, bukan orangnya. Terulang lagi, dia minta maaf lagi utk yang kedua kalinya, sayapun masih membenci perbuatannya, belum orangnya. Terulang untuk yang ketiga kalinya, dia minta maaf untuk yang ketiga kalinya juga, saya tetap membenci perbuatannya dan tidak bisa membenci orangnya. Terulang untuk yang keempat kalinya, dia minta maaf untuk yg keempat kalinya, lagi-lagi saya benci pada perbuatannya, dan saya akhirnya benci... pada diri saya sendiri!".
     
    Selanjutnya, terjadilah dialog antara saya dan Eka.
     
    Saya : "Mbak Eka, apa yang diperbuat oleh diri sendiri sehingga mbak Eka membenci diri sendiri ?".
     
    Eka : "Karena untuk masalah yang satu ini saya tidak bisa berpikir objektif... Diri saya terlalu menggunakan perasaan dalam merenungkan permasalahan... sampai akhirnya tembus ke angka empat kali kesempatan tadi. Empat kali kesempatan berarti sakitnya jg empat kali lipat.  Seandainya saya lebih banyak menggunakan logika pasti tidak sampai di angka empat. Mungkin hanya sampai angka dua atau dua setengah.   Inilah kelemahan saya yag membuat saya jadi benci pada diri sendiri."
     
    Saya : "Jadi karena mbak Eka terlalu pakai perasaan ya?... memang sih, masalah itu kalau mau selesai bukan dirasain, tapi dipikirin, seperti kata mbak eka 'pakai logika'... Nah, Mbak Eka mengatakan ini sebagai kelemahan mbak Eka, lantas yang mbak Eka benci itu diri mbak Eka atau kelemahan mbak eka ?"
     
    Eka : "Lha, masalahnya kelemahan itu ada dalam diri saya. Kepriben...?"
     
    Saya : "Mbak Eka itu sebenarnya membenci diri sendiri, atau membenci kelemahan mbak eka ? ... Apa yang terjadi ketika kita membenci diri sendiri ? ... mungkinkah orang lain akan menyukai diri kita sementara kita sendiri membenci diri sendiri ? ... Jadi ini masalah diri mbak Eka, atau hanya masalah kemampuan atau kompetensi saja? Siapa yang dapat mengubah kelemahan itu menjadi kekuatan? ... bukankah diri mbak Eka? .. Lalu kalau diri mbak Eka punya potensi untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan, mengapa mbak Eka membenci diri mbak Eka ? ... Untuk tujuan apa mbak Eka membenci diri mbak Eka sendiri ?"
     
    Jeda sejenak.
     
    Eka : "Intisarinya (halah) saya perlu lebih mengeksplor potensi diri untuk merubah kelemahan menjadi kekuatan agar perasaan benci pada diri sendiri pergi jauh-jauh dari diri saya. Gitu ya, Pak Pras... :)"
     
    Saya : "Dengan pengetahuan ini, apa yg akan mbak Eka lakukan? Apa keputusan mbak Eka?"
     
    Eka : "Ehmmm... Saya memutuskan, saya tidak akan membenci diri sendiri lagi dan (berusaha) mensyukuri kelemahan saya sebagai anugrah karena kelemahan ini bisa diubah menjadi kekuatan. Ini keputusan saya, Pak Pras... :))". Matur sembah nuwun ingkang katah untuk "terapi diri" kilatnya, Pak Pras. Saya akan selalu ingat pelajaran singkat yang sangat berarti dari Pak Pras ini."
     
    Saya : "Hehehe ... sama-sama mbak. Bagaimana perasaan mbak Eka setelah memutuskan hal tersebut? Sekarang tinggal memikirkan bagaimana CARA mengubah kelemahan itu lalu MEMBANGUN kekuatan untuk tidak lagi tidak berdaya, tetapi menjadi BERDAYA, sehingga mbak Eka mampu menentukan dan menjalankan apa yang diinginkan."
     
    Eka : "Jujur aja ada rasa plong di hati saya, Pak Pras.  Untuk saat ini cara yang terpikir adalah : dalam menghadapi permasalahan, untuk hal-hal tertentu, saya harus menyeimbangkan antara perasaan dan logika. Mudah-mudahan cara ini bisa membantu saya mengubah kelemahan menjadi sebuah kekuatan diri, dan membuat saya mampu menentukan serta menjalankan suatu keputusan yang bisa saya pertanggungjawabkan pada diri sendiri.
     
    Saya : "Jadi kejadian empat kali ini ada manfaatnya kah?"
     
    Eka : "Sangat, Pak Pras... Setidaknya empat kali ini menjadi salah satu guru kehidupan saya..... Empat kali ini memberi saya banyak pelajaran hidup yang belum tentu didapat oleh orang lain.  Saya bisa menarik benang merah dari kejadian empat kali ini, bahwa dengan niat dan potensi yang ada pada diri, sebuah kelemahan bisa diubah menjadi kekuatan diri. Matur sembah nuwun sekali lagi, P. Pras."
     
    Saya : "Terimakasih sama-sama mbak. Wah, saya malah yang banyak belajar dari sini ..." ***

    2012-01-10 05:55:00 | Komentar di non-aktifkan untuk artikel ini

  • Siapa Sesungguhnya Penguasa Pikiran ?

    Masih soal berlatih mendengar suara hati, yang kadang berhasil, kadang gagal. Saat membuka mata di pagi hari tanggal 5 November 2011, selesai menunaikan kebutuhan berkomunikasi dengan Tuhan, saya mengingat-ingat apakah hari itu ada 'acara keluar'. Saya segera membuka agenda elektronik yang menyatu di BB saya, dan memeriksa tumpukan surat undangan. Seorang alumni sekolah tinggi dimana saya pernah menjadi ketua yayasan menikah pada hari itu.
    Undangan itu sudah ada beberapa hari lalu di tumpukan itu disertai dengan rasa senang karena masih 'diingat' oleh seseorang yang bahkan tidak sering bersapa saat di kampus. Hari itu saya punya rencana seharian 'ngutak-atik' materi pelatihan publik yang akan saya fasilitasi minggu depan. Saya juga sudah lebih dari tiga minggu tidak berkencan dengan ibu mertua saya.  
    Pagi itu saya mencoba mendengar apa saran suara hati. Pagi bikin materi, sore ke rumah mertua, malam ke kondangan, itu suara yang muncul. Singkat cerita, kemalasan yang bersarang di subconscious-mind membajak hidup saya hari itu. Pembenarannya itu hari Sabtu. Saya baru mulai membuat materi pelatihan menjelang Ashar setelah mandi 'pagi' jam setengah dua siang. Itu juga karena terbangun dari tidur lagi. Rasa 'tanggung' -- persisnya rasa malas berhenti dan memulai lagi -- menyebabkan saya mengorbankan rencana untuk pergi ke rumah ibu mertua saya. Pembenarannya, besok 'kan Idul Adha, jadi sekalian berlebaran haji ke ibu mertua. Toh, cuma beda sehari. Tidak apa-apa 'kan.  
    Angka jam di sudut laptop menunjukkan menjelang jam 6 sore. Adzan maghrib baru saja berlalu. Takbir di mesjid mulai terdengar sayup-sayup. Rasa tanggung -- persisnya rasa malas berhenti -- masih memborgol. Isteri saya lewat BBM-nya sudah bertanya apakah saya jadi pergi atau tidak. Pertanyaan itu membuat saya berhenti sejenak dari aktivitas saya, dan kembali hening untuk mendengar suara hati. Suara hati tetap konsisten : datang ke kondangan.
    Saya masih membutuhkan waktu sekitar 10 menit bertengkar dengan sub-conscious mind saya yang memprovokasi diri saya merasakan kondisi tubuh. Saya saat itu juga merasa 'kurang enak badan'. Saya juga diminta membuka denah lokasi gedung dan menemukan tempatnya cukup jauh dari rumah saya, yaitu Cililitan. Alasan lain, toh saya dapat memakai 'rasa' yang saya ciptakan itu untuk menjadi pembenaran ketidakhadiran saya di kondangan. Saya dapat mem-BBM, atau meninggalkan pesan di inbox FB yang meminta permakluman saya tidak hadir, sambil basa-basi memberi restu untuknya.
    Saya sudah banyak kalah hari itu dengan pembenaran, masak saya kalah total hari itu? Kali ini suara hati saya harus menang !. Saya terima seluruh rasa 'tidak enak badan' itu, saya rangkul si rasa malas, dan saya ucapkan terimakasih kepada mereka sudah membuat saya nyaman beristirahat di rumah, lantas saya ajak mereka mendukung saya menjalankan misi hidup dengan cara memenuhi undangan perkawinan.  Menjalani misi hidup memang tidak enak. Saya terima tidak enaknya, lalu saya mulai menggunakan pikiran dengan membuka peta di Ipad. Dari peta itu, saya mulai menemukan jalan tercepat menuju Cililitan, yang tadinya tidak terpikir.  
    Hanya dalam hitungan 45 menit, saya sudah sampai ke lokasi dari rumah saya di bilangan Ciputat.  Di sana, saya gembira menyambut dan disambut teman-teman alumni dan mahasiswa yang saya kenal. Kejutan terjadi saat mengantri salaman, tiba-tiba seorang panitia menyetop antrian di belakang saya, dan menyilakan saya untuk nanti berfoto bersama mempelai dan digiring ke tempat VIP makan. Yang bikin saya kaget saat itu bukan 'perlakuan khusus'-nya karena menjadi tamu VIP bukan kali yang pertama buat saya, namun saya tidak menyangka karena saya sudah 'mantan' ketua yayasan. Ternyata saya bukan undangan biasa.
    Sesaat sebelum blitz kamera menyala, Agnes, sang mempelai wanita kembali berbisik mengucapkan terimakasih banyak saya telah hadir.  Saya tidak tahu apa arti diri saya untuk Agnes, tapi wajah dan nada suaranya menyiratkan kebahagiaan. Justru  kata-kata Agnes ini yang seketika itu membuat saya merinding sekaligus bersyukur karena dapat membuat wajah Agnes tersenyum.
    Di mobil menjelang saya meninggalkan gedung resepsi, saya sempatkan melapor kepada isteri saya, hari ini saya bahagia karena telah berhasil memenuhi harapan seseorang.  Isteri saya berkomentar melalui BBM : "Pantes hati nuranimu menyuruhmu pergi :-)". ***

    2011-11-06 01:03:00 | Belum ada komentar untuk artikel ini | Beri komentar

  • Masih Tidak Mau Bertanggungjawab ?

    Akhir-akhir ini saya belajar lebih sering mendengar suara hati untuk mulai lebih hidup dalam kebenaran daripada pembenaran. Namanya juga belajar, kadang berhasil, kadang gagal. Inipun sebenarnya sebuah pembenaran melalui permintaan permakluman atas nama 'belajar'.

    Suatu Jumat, saya duduk terkantuk-kantuk di antara ratusan jemaah khotbah Jumat. Saya tidak ingat apa-apa, hingga tersadar sudah doa khutbah kedua. Kalau saja malaikat melakukan UAK (Ujian Akhir Khutbah) terhadap saya, pasti ponten saya nol besar, karena tak satupun apa yang dibicarakan oleh khotibnyangkut di memori saya. Kalau pakai teori asal-asalan gelombang otak, maka tadi itu saya dalam keadaan trance dan masuk gelombang theta. Konon, itu saat paling baik diberi sugesti. Masalahnya, ada satu syarat sugesti itu tertanam langsung ke bawah sadar : fokus. Dan fokus saya saat itu sama sekali bukan ke khotbah.

    Saya merekayasa sebuah perbincangan introspektif di bioskop mental saya. Saya mulai dengan melihat sang Khotib. Saya mulai menyadari bahwa Sang Khotib menggunakan intonasi monoton, irama standar, dan gaya yang sama dengan 'template' khotbah jumat kebanyakan. Isinya ? Ya saya tidak tahu. Wong dari mulai melantunkan kalimat pembuka khotbah saja sudah tidak menarik perhatian dan pendengaran saya.

    "Khotib model begini mana bisa kasih pengaruh ke umat dengan khotbahnya. Irama hipnotiknya bikin gue ngantuk !", begitu sesosok ego state yang bernama si penyalah muncul dalam bioskop mental diri saya.  Di drama mental itu, saya sedang menghardik sang Khotib, "Hei Pak Khotib, mengapa cara khotbah ente bikin sebagian besar jemaah tertidur ?".  Sang Khotib-pun menjawab, "Karena mereka kurang beriman dan setan telah meniup mata mereka sehingga mereka mengantuk !". Saya balas dengan hardikan yang lebih keras, "Oh Tidak !!! ... itu cuma pembelaan ente ! Itu cuma pembenaran. Kebenarannya, ente kurang terampil menyampaikan khotbah yang menarik !". Sang Khotib-pun terdiam.  Wajahnya galau.

    Sesosok ego state yang bernama si Sombong lantas mengambil alih pembicaraan. Ia menarik sebuah kisah pengalaman saya dari lemari memori. Nih, saya dulu pernah dimarahi oleh seorang jema'ah sholat Jumat ketika memberi khotbah hingga 50 menit lamanya. Tapi saya dibela oleh jemaah lain yang menyatakan khotbah saya bagus dan menarik.  Saya tidak tahu, dalam hitungan sepersekian detik, sebuah tangan imajiner melayang menampar pipi saya. "PLAKKK!!". Saya terkejut. Tangan yang saya duga berasal dari suara hati itu kemudian berkata, "Bodoh kamu !. Itu bukan prestasi !. Itu kebodohan. Kamu tidak sadar lingkungan waktu itu. Itu kan mesjid perkantoran. Jangan samakan dengan forum training ! ... Goblok kok sombong !!!".

    Dalam keadaan 'keliyengan' tertampar tangan imajiner, muncul sesosok ego state Sang Evaluator Diri. "Hai Prass !! ... mengapa kamu bersama sebagian besar jemaah lain tertidur saat Khotib sedang memberi khotbah ??".  Merasa memiliki pengalaman menghardik Sang Khotib tadi,  saya lalu menjawab, "Cara khotib berkhotbah tidak menarik, monoton, klise, sehingga membuat kami mengantuk !"....

    "PLAKKK!!!", kembali tangan imajiner mendarat di pipi saya. "Itu pembenaran !!! ... Kebenarannya, kamu  tidak benar-benar berniat mendengarkan khotbah, dan kamu memutuskan untuk membiarkan matamu mengantuk ! ... Masih mau nggak bertanggungjawab ???!!!.

    Kali ini saya terdiam. Galau. ***

    2011-11-05 19:53:00 | Belum ada komentar untuk artikel ini | Beri komentar

  • Dimulai Dari Arti

    Anda mungkin sudah pernah mendengar cerita klasik mengenai tiga orang tukang batu yang sedang membangun sebuah kuil. Sebut saja nama mereka si Kumis, si Gondrong, dan si Botak. Ketiga orang ini sama-sama sedang menyusun bata-bata menjadi dinding sebuah bangunan. Bedanya, wajah si Kumis tanpa senyum dan sesekali mengeluh jika menemui kesulitan. Dengan mood yang tidak stabil itu, akibatnya pekerjaannya asal-asalan. Wajah si Gondrong juga hampir tanpa senyum, namun ia diam saja. Wajah si Botak lebih ceria dan sesekali bersenandung. Si Botak lebih cepat bekeja dan hasilnya lebih banyak dibandingkan kedua rekannya.

    Saat sore menjelang, Sang Mandor memanggil mereka untuk diberikan upah. Si Mandor yang ternyata memperhatikan mereka sejak pagi lantas bertanya kepada mereka satu persatu.

    “Hai Kumis, mengapa seharian ini wajahmu kucel dan mengeluh saja ?”, Tanya si Mandor.

    “Apa pedulimu ? Aku kerja untuk mendapat upah. Yang penting bata-bata itu sudah tersusun jadi dinding dan aku dibayar”, jawab si Kumis.

    “Hai Gondrong, kamu juga jarang senyum dan diam saja, “ ujar si Mandor.

    “Aku berusaha konsentrasi mengikuti aturan agar dinding yang kubuat kuat dan bagus,” jawab si Gondrong.

    “Nah, Botak. Kamu mengapa bekerja begitu ceria ?, padahal upahmu sama dengan yang lain, ” tanya si Mandor.

    “Aku senang bisa ikut dalam sejarah membangun tempat ibadah ini. Aku membayangkan setelah bangunan ini jadi, orang-orang akan mengagumi bangunan ini, dan akan aman dan senang berada di kuil ini, maka aku kerjakan dengan sebaik-baiknya …” jawab si Botak.

    Seandainya anda jadi si Mandor, kira-kira siapa tukang yang anda sukai ? Siapa tukang yang akan anda percayai untuk dipakai seterusnya ? Kalau anda dipromosi menjadi Kepala Proyek, siapa yang akan anda tunjuk sebagai Mandor menggantikan anda ? Siapa yang nasibnya akan cepat berubah menjadi lebih baik ?

    Ketiga tukang bangunan tadi telah memberi ARTI kepada pekerjaan dan tempat bekerja mereka berbeda-beda. ARTI yang mereka berikan kepada pekerjaan dan tempat bekerjanya itu menentukan PIKIRAN dan PERASAAN mereka, lalu menentukan KEPUTUSAN yang mereka untuk bertindak, lalu menentukan TINDAKAN yang mereka lakukan, lantas menentukan HASIL perbuatan/pekerjaan mereka, dan akhirnya menentukan NASIB mereka sendiri.

    Memang bukan cuma soal ARTI. Dibutuhkan pula KOMPETENSI agar kita siap dan mampu memberi hasil kerja yang terbaik. Seandainya si Botak bekerja hanya mengandalkan wajah ceria dan kedekatan dengan Anda selaku Mandor, tapi ia tidak terampil dan hasil kerjanya tidak berkualitas, apakah anda selaku Mandor akan mempercayainya jadi pengganti anda dengan risiko merusak reputasi anda sendiri ?

    Kalau sekarang anda merasa NASIB anda belum memuaskan anda, masih begitu-begitu saja, atau sebaliknya justru anda tengah gembira dengan NASIB anda, maka silakan periksa dahulu apa ARTI yang anda berikan kepada pekerjaan, jabatan, dan Perusahaan tempat anda bekerja selama ini ?

    So, apa ARTI pekerjaan, jabatan, dan Perusahaan tempat anda bekerja bagi anda ? …

    2011-11-01 21:07:00 | Ada 2 komentar untuk artikel ini | Beri komentar